TERBARU !

AQIDAH

FATWA

MANHAJIYYAH

Minggu, 05 Mei 2019

✅📖 PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4⃣)

✅📖 PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4⃣)
—---------------------—

✳️ HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya...)
📡 (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

.....

🔘 LANJUTAN FAEDAH HADITS:

5⃣ Kata “Laki-laki” dalam hadits, tidak menunjukkan pengkhususan kaum pria saja. Karena syari’at ini pada asalnya berlaku untuk kaum laki-laki dan perempuan, kecuali jika didapatkan dalil yang mengkhususkan. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

6⃣ Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, hadits ini mengisyaratkan lemahnya riwayat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu yang berbunyi;
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا
“Jika bulan Sya’ban tersisa separuhnya, maka janganlah kalian berpuasa!” (Hadits riwayat Ahmad no.9707, At-Tirmidzi no.738, Abu Dawud no.2337, Ibnu Majah no.1651, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no.2923, dan selainnya.)

‼️ Hadits di atas diingkari oleh Imam Ahmad Rohimahullah. (akan tetapi) Sebagian ulama yang lain menshohihkan atau menghasankannya. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171)

🌷Imam Ahmad mengatakan, “Ini adalah hadits mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak pernah menyampaikan kepada kami hadits ini; karena berseberangan dengan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anhuma. (Masail Imam Ahmad Riwayat Abi Dawud no.2002 hal.434, Al-Muharrir no.646 hal.378 karyaIbnu ‘Abdil Hadi Rohimahullah)

🔻Hadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan; 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَان يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa pada seluruh bulan Sya’ban; beliau juga berpuasa Sya’ban (1 bulan) kurang sedikit.” (HR. Al-Bukhori no.1970 dan Muslim no.1156-(176), dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha)

🔻Sedangkan Hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan, 

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali tatkala beliau menyambung (puasa) Sya’ban dengan Romadhon.” (HR. Ahmad no.265652, At-Tirmidzi no.736, An-Nasa`i no.2175, Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahullah dalam Mukhtashor Asy-Syamail no.255, Shohih At-Targhib wat Tarhib no. 1025, Shohih Ibni Majah no.1648)

Wallahu A’lamu bisshowab


✅(Bersambung Insya Allah,...)

🌍 Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.

#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam

〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf 
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com/

Sabtu, 27 April 2019

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3⃣)

✅📖 PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3⃣)
—---------------------—
✳️ HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya...)
📡 (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)
.....
🔘 Faedah-Faedah Hadits:
—---------------------—
1⃣ Di dalam hadits ini terkandung larangan berpuasa sehari atau dua hari di akhir bulan Sya’ban, menjelang bulan Romadhon.
🔻Sifat larangan tersebut diperselisihkan para Ulama. Sebagian mereka menyatakan haram, sebagian yang lain menyatakan makruh (di bawah tingkatan haram).
🌷Pendapat yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah adalah yang menyatakan makruh. (Catatan: beliau pernah berpendapat haram).
🔻Namun apabila bertepatan dengan hari Syak (*) hukumnya haram. (Berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu; setelah hadits ini insya Allah).
(*) Hari Syak terjadi pada tanggal 30 Sya'ban; yaitu hari yang diragukan, tidak bisa dipastikan apakah Romadhon telah masuk atau belum. Penyebabnya, hilal tidak terlihat pada sore 29 Sya’ban karena tertutup mendung, debu (asap), gunung, atau sesuatu; berdasarkan pendapat terpilih.
🔻Jika langit cerah pada sore tanggal 29 tapi hilal tidak terlihat; maka puasa tanggal 30 Sya'ban hukumnya makruh. Wallahu A’lam (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171 & 174)
2⃣ Larangan di dalam hadits berlaku untuk seluruh umat Islam. Walaupun konteks larangan ditujukan kepada Shahabat. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/169)
3⃣ Adanya Rukhshoh (atau keringanan) bagi orang yang rutin (terbiasa) melakukan puasa tertentu, untuk berpuasa pada dua hari terakhir bulan Sya’ban. (Taudhihul-Ahkam 3/132)
4⃣ Lafadz perintah menunjukkan pembolehan, jika konteksnya berlawanan dengan larangan. Misal perintah dalam hadits “lakukanlah puasa tersebut!”, karena perintah tersebut didahului dengan larangan, maka maknanya sekedar pembolehan untuk berpuasa. Wallahu A’lam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)
Wallahu A’lamu bisshowab
✅(Bersambung Insya Allah,...)
🌍 Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.
📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 2⃣)

✅📖 PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 2⃣)
—---------------------—

✳️ HADITS PERTAMA
📡 (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

‼️ “Jangan kalian dahului Romadhon dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali (bagi) seorang lelaki yang rutin melakukan amalan puasa tertentu; lakukanlah puasa tersebut” (Muttafaqun ‘alaih)

〰〰〰〰

✳️ TAKHRIJ HADITS:
🔗 Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no.1914 , Muslim no.1082-(21), Ahmad no.7200, 8575, 9287, 10184, 10662, 10755, Abu Dawud no.2335, At-Tirmidzi no.685, An-Nasa`i no.2173, 2190, Ibnu Majah no.1650 , dan selain mereka.

✳️ MAKNA HADITS
🔗 Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kita (umat Islam) untuk berpuasa sehari atau dua hari menjelang bulan Romadhon, kecuali seseorang yang rutin (*) melakukan amalan puasa tertentu, maka boleh baginya untuk berpuasa pada dua hari tersebut. 

(*) Maksud “Rutin” adalah; “Terbiasa melakukan puasa tersebut.” 》[Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; dalam Fathu Dzil-Jalal 3/169]

🔰Misalnya: 
🔻Seorang yang rutin berpuasa tiga hari setiap bulan yang bertepatan dengan tanggal 27, 28, 29 (menjelang Romadhon); maka yang seperti tidak mengapa.
🔻Atau Seseorang yang rutin berpuasa Senin-Kamis, dimana hari Kamis nya jatuh pada tanggal 29 Sya’ban; yang seperti ini juga boleh; tidak mengapa.
🔻Atau Puasa Qodho` (membayar hutang puasa Romadhon tahun lalu) tepat sebelum masuk bulan Romadhon; yang seperti ini juga boleh, bahkan hukumnya wajib (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)


Wallahu A’lamu bisshowaab

☑️ (Bersambung Insya Allah,...)

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.

#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam

〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf 
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com/

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1⃣)

✅📖 PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1⃣)
—---------------------------------—
📗Mukaddimah
—---------------
🔘Pengertian Shiyam (Puasa)
—------—
🔻Di dalam istilah syari’at, Shiyam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatalnya (*), sejak terbit fajar Shubuh hingga tenggelamnya matahari.
(*) Pembatal-pembatal shiyam akan dibahas pada tempatnya, insya Allah.
🔻Dalam bahasa Arab, Shiyam (disebut pula dengan Shaum); artinya “menahan”. 》[Lihat Fathu Dzil-Jalali wal-Ikrom 3/165; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah]
🔻Kata Shiyam dan Shaum, telah tercantum di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia); pada kata (Siam dan Saum) tanpa huruf ‘h’ yang berarti puasa, walhamdulillah.
🔘Hukum Shiyam
—------—
🔻Adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah (yang telah akil baligh), untuk berpuasa di bulan Romadhon.
🌷Landasan hukumnya adalah perintah Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat 183,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,...”
🔻Dan perintah Rasul-Nya,
إِذَا رَأَيْتُمُ الهِلالَ فَصُومُوا
“Jika kalian melihat hilal (bulan Romadhon), berpuasalah kalian!”
》[HR. Al-Bukhori no.1900 dan Muslim no.1080, Dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma; dengan lafadz Muslim]
📌Bahkan Shiyam Romadhon termasuk rukun Islam yang lima. 》[Lihat HR. Al-Bukhori no.8 dan Muslim no.16, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma]
🔘Hukum Meninggalkan Puasa Romadhon
—-------------
🔻Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, "Barangsiapa hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan mengingkari kewajiban puasa Romadhon, maka dia telah kafir. Karena dia mengingkari perkara yang telah jelas hukumnya di dalam agama Islam."》[Lihat Al-Fath 3/165]
🔰Para ulama berbeda pendapat, tentang hukum orang yang meninggalkan puasa Romadhon karena tahawun (meremehkan pelaksanaannya). Pendapat yang kuat adalah tidak dikafirkan. 》[Lihat Al-Fath 3/165-166; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah]
👍 Semoga kita dimudahkan Allah Ta'ala untuk melaksanakan kewajiban Shiyam Romadhon dengan penuh keimanan, mengharap balasan kebaikan dari sisi Allah ‘Azza waJalla. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin
✅(Bersambung Insya Allah,...)
🌍 Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.
📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Minggu, 31 Maret 2019

💐📝 ISTRI ADALAH PAKAIAN BAGI SUAMI, SUAMI PAKAIAN BAGI ISTRI


💐📝 ISTRI ADALAH PAKAIAN BAGI SUAMI, SUAMI PAKAIAN BAGI ISTRI
Allah Azza Wa Jalla:
...هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ...
"...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka..."
(QS. al-Baqoroh ayat 187)
Interaksi dan muamalah antar suami istri yang baik adalah bagaikan pakaian yang berjalan sebagaimana fungsinya. Di antaranya adalah:
1. Sangat Dekat
Pakaian adalah melekat pada tubuh, bersentuhan langsung dengan kulit. Demikian dekatnya. Suami istri pun seharusnya demikian. Ada kedekatan fisik dan kedekatan batin.
Suami yang baik menjadi partner hidup yang menyenangkan bagi istrinya. Istri pun demikian. Sahabat yang dekat, sehingga masing-masing pihak mudah menyampaikan gagasan dan keinginannya.
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:
فَلَا أُلْفَةَ بَيْنَ رُوْحَيْنِ أَعْظَمُ مِمَّا بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ
"Tidak ada persatuan (kedekatan) antar dua ruh yang lebih besar dibandingkan antar suami istri."
(Tafsir al-Quranil Adzhim karya Ibnu Katsir, saat menafsirkan surat al-A’raaf ayat 189)
2. Saling Membutuhkan
Sebagaimana manusia membutuhkan pakaian. Suami butuh kepada istrinya. Istri pun demikian.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
لِأَنَّ الزَّوْجَ لَا يَسْتَغْنِي عَنْ زَوْجِهِ فَهُوَ لَهَا بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ
"Karena suami membutuhkan istrinya, sebagaimana pakaian (yang dibutuhkan)."
(Tafsir al-Baqoroh libni Utsaimin)
Allah Ta’ala tidak akan memandang dengan pandangan rahmat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur terhadap suaminya, padahal ia membutuhkannya.
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكَرُ لِزَوْجِهَا، وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dalam keadaan ia masih membutuhkannya."
(HR. an-Nasaai, al-Hakim dari Abdullah bin Amr, dishahihkan adz-Dzahabiy dan al-Albaniy)
3. Memberikan Kenyamanan dan Ketentraman
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا...
"Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan-Nya), Allah cipakan untuk kalian jenis kalian pasangan, agar kalian merasa tentram kepadanya..."
(QS. Ar-Ruum ayat 21)
Sahabat Nabi Ibnu Abbas menafsirkan makna surat al-Baqoroh ayat 187 di atas (yang menjadi pembahasan utama kita kali ini) dengan penafsiran:
هُنَّ سَكَن لَكُمْ، وَأَنْتُمْ سَكَنٌ لَهُنَّ
"Mereka (para istri) memberikan ketenangan kepada kalian, dan kalian pun memberikan ketenangan kepada mereka."
(Tafsir at-Thobariy)
4. Saling Menutupi Aib/ Kekurangan
يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ ...(الأعراف :26)
"Wahai anak Adam, sungguh telah Kami turunkan kepada kalian pakaian yang menutupi aurat kalian..."
(QS. Al-A’raaf ayat 26)
Fungsi pakaian adalah menutup aurat. Demikian pula suami dan istri, masing-masing semestinya menutupi aib pasangannya. Tidak mengumbar kekurangan dan aib mereka pada pihak lain. Kecuali pada pihak berwenang yang diperlukan sesuai kebutuhan, misalkan konsultasi penyakit pada dokter, atau konsultasi keadaan agama pasangan pada orang yang berilmu agama. Hanya sesuai kadar yang diperlukan, untuk kemaslahatan.
5. Memperlakukan Dengan Baik.
Setiap orang yang berakal pasti memperlakukan pakaiannya dengan baik. Membersihkannya, merawatnya, dan mengenakan dengan baik. Menghindarkannya dari kotoran atau hal-hal yang bisa membuatnya sobek atau terkoyak. Demikian pula suami dan istri semestinya memperlakukan masing-masing pasangannya dengan baik, sebagaimana ia suka diperlakukan demikan.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ [البقرة:228]
"Dan mereka (para istri) berhak mendapatkan perlakuan baik sebagaimana mereka wajib memperlakukan (suami) dengan baik."
(QS. Al-Baqoroh ayat 228)
6. Saling Menjaga dan Melindungi
Allah Ta’ala menyebutkan di antara fungsi pakaian adalah untuk melindungi dari udara panas (maupun dingin). Ada pula pakaian untuk melindungi dari saat pertempuran.
...وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ (النحل :81)
"Dan Dia (Allah) menjadikan untuk kalian pakaian yang melindungi kalian dari panas dan pakaian yang melindungi kalian saat perang."
(QS. An-Nahl ayat 81)
Demikian pula suami istri sebagai pakaian masing-masing, saling melindungi dan menjaga.
Jika seorang suami terbunuh karena menjaga istrinya atau keluarganya, ia mati syahid.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
...وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
.
"..dan barangsiapa yang terbunuh karena (membela) keluarganya, dia syahid."
(HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dari Said bin Zaid, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
Beberapa sifat istri calon penghuni surga di antaranya adalah menyenangkan suami ketika memandangnya, taat ketika diperintah, dan menjaga diri dan harta saat suami tidak berada di dekatnya.
خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تَسُرُّكَ إِذَا أُبْصِرَتْ وَ تُطِيْعُكَ إِذَا أُمِرَتْ وَ تَحْفَظُ غَيْبَتَكَ فِي نَفْسِهَا وَ مَالِكَ
"Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang menyenangkanmu ketika dipandang, mentaatimu ketika diperintah, dan menjaga diri dan hartamu ketika engkau tidak ada."
(HR. at-Thobarony dishahihkan al-Albany dalam Shahihul Jami’)
7. Saling Mengarahkan Pada Ketakwaan
Allah Ta’ala menyebut bahwa pakaian terbaik adalah ketakwaan. Karena itu, perjuangan terbaik dalam interaksi suami istri adalah sama-sama membawa diri dan pasangannya untuk bertakwa kepada Allah: menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
...وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
"...Dan pakaian ketakwaan itu adalah yang terbaik."
(QS. Al-A’raaf ayat 26)
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada segenap keluarga kaum muslimin...
(Abu Utsman Kharisman)
💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom
•┈┈┈┈•✿❁•••❁✿•┈┈┈┈•
📬 Diposting ulang hari Selasa, 19 Rajab 1440 H / 26 Maret 2019 M
🌐 http://www.nisaa-assunnah.com
📠 http://t.me/nisaaassunnah
🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀
💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Sabtu, 16 Maret 2019

NASEHAT ULAMA SALAF UTK KAUM MUSLIMIN AGAR MENGERTI TENTANG HAKEKAT KEHIDUPAN


🔉Telah berkata Umar bin Al khothob radhiyallahu anhu :

✳ Kalau sekiranya tidak ada 3 hal sungguh aku ingin menjadikan diriku akan berjumpa dengan Allah

Dalam riwayat lain : kalo tidak ada 3 hal didunia niscaya aku tidak  ingin tetap tinggal di Dunia ;

1⃣ Kalo sekiranya aku tidak berjalan untuk berjuang dijalan Allah azza wajalla atau aku tidak terdorong utk berjihad atau aku persiapkan pasukan utk berjuang dijalan Allah .

2⃣ Dan kalo sekiranya aku tidak meletakkan dahiku untuk Allah atau tidak ada usaha maksimal untuk sholat Qiyamul lail .

3⃣ Kalo sekiranya tidak ada majlis ilmu dengan suatu kaum yang mereka telah menyeleksi pembicaraan yang baik sebagaimana menyeleksi buah kurma yang baik .

Teks arab

قال عمر ابن الخطاب رضي الله عنه :
لولا ثلاث لأحببت أن أكون قد لقيت الله :
لولا أن اسير في سبيل الله عز وجل .
ولولا أن أضع جبهتي لله .
أو أجالس أقواما ينتقون أطايب الحديث ، كما ينتقون أطايب التمر

(( لولا ثلاث قي الدنيا لما احببت البقاء فيها لولا ان احمل او اجهز جيشاً في سبيل الله ,و لولا مكابدة الليل , ولولا مجالسة أقوام ينتقون أطايب الكلام كما ينتقى الطيب من التمر ))

نقل عن تهذيب حلية الأولياء 1/71 :

🍃 *Silahkan bergabung di Chanel kami dibawah ini bila ingin tambahan  Faedah*

🌀 *WhatsApp Al-Istiqomah 'alas Sunnah Batam*

https://chat.whatsapp.com/B5wQS9LEOXEKn0YKW8RwfM

https://chat.whatsapp.com/9afTWV50gfo5gC1XlUNykf

https://chat.whatsapp.com/J0v88moNjJx2ztDTVwbqGP


📡📻Tafadhol kunjungi LINK kami bila ingin dapat postingan ilmiyah lainnya :

🌏 *Web Situs Salafy Batam*
http://istiqamahbatam.org

🇮🇩 *Channel Telegram* ||
1⃣ http://telegram.me/istiqomahsalafi
2⃣ https://t.me/Bantahhizbiyah
3⃣ https://t.me/ltqisbatam

*Silahkan di Share ilmu Islam yang bermanfaat untuk Umat.*.

​♲ *مُــُنُ احُـُبُ آلُآ يَنْقَطًع عملُہ بْعد​  ​مۆتٌہ فَلُيَنْشُر آلعلُم [آبْنْ آلُجۆڒي] ​✾​

Barang siapa yang ingin agar tidak terputus amalannya setelah kematiannya maka sebarkanlah Ilmu Agama ini
( kata Ibnul Jauziyah)

💎💎💎💎💎💎💎💎
*•┈┈••⊰✿✿⊱••┈┈•*

Rabu, 21 November 2018

Kumpulan Lengkap Audio Rekaman Dauroh Imam Syafi'i (DIS) 5 Kota Indonesia - tahun ke 8 - 1440 H / 2018 M

KUMPULAN LENGKAP HASIL REKAMAN AUDIO DAUROH IMAM AS-SYAFII KE- 8 (LIMA KOTA DI - INDONESIA)

1. Rekaman DIS 8 - Kota Balikpapan - Kalimantan Timur  ( Klik DOWNLOAD Disini )







Kegiatan Dauroh ini disiarkan secara langsung melalui sumber informasi sebagai berikut :
🔹🔊 http://www.daurohimamasysyafii.com
🔹🔊 http://www.masjidfatahillah.com
🔹🔊 http://www.tasriau.com
🔹🔊 http://www.radioibnulqoyyim.com
🔹🔊 http://www.anshorussunnahbatam.com

Sumber Rujukan/Referensi :
1. daurohimamasysyafii.com
2. radioibnulqoyyim.com
3. masjidfatahillah.com
4. t.me/AudioThalabIlmuSyar_i
5. t.me/anshorussunnahbatam
6. t.me/masjidfatahillahdepok

Kamis, 15 November 2018

Nasehat Indah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Tentang Peringatan Maulid Nabi



*📚🕋⛔ Nasehat Indah Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Tentang Peringatan Maulid Nabi

✍Sungguh kami telah berulang-ulang menjelaskan permasalahan tentang perayaan maulid Nabi ﷺ dari kitabullah maka kita dapatkan Allah ﷻ memerintahkan kita untuk Ittiba' (mengikuti) Rasulullah ﷺ dari apa yang beliau bawa dan memperingatkan kita untuk (meninggalkan) apa yang beliau ﷺ larang. Dan menghabarkan kepada kita bahwa sungguh Allah ﷻ telah menyempurnakan agama-Nya kepada umat ini, sehingga perayaan maulid Nabi ﷺ tidak pernah datang dari Nabi ﷺ , bukan bagian dari agama yang telah Allah ﷻ sempurnakan untuk kita, dan Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi ﷺ dalam beragama".

📙 Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz رحمه الله http://www.binbaz.org.sa/mat/8148

✍ قد رددنا هذه المسألة وهي : الاحتفال بالموالد إلى كتاب الله سبحانه فوجدناه يأمرنا با تباع الرسول ﷺ فيما جاء به ، ويحذرنا عما نهى عنه ويخبرنا بأن الله سبحانه قد أكمل لهذه الأمة دينها ، وليس هذا الإحتفال مما جاء به الرسول ﷺ فيكون ليس من الدين الذي أكمله الله لنا ، وأمرنا باتباع الرسول فيه .
     
📙 الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز - رحمه الله -

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

✍Dan juga telah berulang-ulang kami menjelaskan /membantah permasalahan perayaan maulid Nabi ﷺ dari sunnah Rasulullah ﷺ , maka kita tidak mendapatkan dalam hadits bahwa Nabi ﷺ pernah merayakannya dan Beliau ﷺ tidak pernah memerintahkan merayakannya dan juga para Sahabat radhiyallahu'anhum tidak pernah merayakannya.

*☝Maka dari sini kita mengetahui bahwa perayaan maulid Nabi ﷺ bukan bagian dari agama,  bahkan itu adalah perkara bid'ah yang di ada-adakan dan juga termasuk Tasyabbuh (menyerupai) ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara  pada perayaan-perayaan mereka".*

📙 Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz رحمه الله http://www.binbaz.org.sa/mat/8148 
_______

✍ وقد رددنا ذلك  - أيضا - هذه المسألة وهي : الإحتفال بالموالد إلى سنة الرسول الله ﷺ فلم نجد فيها أنه فعله ، ولا أمر به ولا فعله أصحابه رضي الله عنهم ، فعلمنا بذلك أنه ليس من الدين بل هو من البدع المحدثة ، ومن التشبه بأهل الكتاب من اليهود والنصارى في أعيادهم .

📙الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز - رحمه الله -

✍ "Adapun yang pertama kali yang mengada-adakan (Perayaan maulid Nabi ﷺ ) yang terkenal adalah Bani Fatimiyah di Negeri Mesir dan Magrib, pada abad ke empat dan kelima. Sungguh mereka telah melakukan perkara baru  dengan merayakan maulid (kelahiran) untuk Rasulullah ﷺ, untuk Hasan dan Husain serta sayyidah Fatimah  radhiyallahu'anhum kemudian mereka berhukum dengannya. Kemudian setelah itu perayaan-perayaan maulid ini di lakukan oleh kaum Syi'ah dan selain dari mereka.

*✋🏻Sementara perayaan maulid (kelahiran) Nabi ﷺ adalah bid'ah yang tidak ada keraguan padanya,  karena sesungguhnya Nabi ﷺ seorang pengajar yang membimbing ummatnya dan para Sahabat adalah manusia yang paling utama setelah para Nabi, dan sungguh beliau ﷺ telah menyampaikan dengan penyampaian yang sangat jelas, tidak pernah sama sekali beliau ﷺ merayakan kelahirannya, dan tidak pernah membimbing (ummatnya) untuk merayakannya.*

💎Demikian pula para Sahabat radhiyallahu'anhum manusia yang paling utama dan manusia yang paling cinta kepada Nabi ﷺ tidak pernah marayakan maulid Nabi ﷺ. Demikian pula orang - orang yang mengikuti mereka dengan baik dari tiga generasi terbaik ummat ini, tidak pernah merayakan maulid Nabi ﷺ ".

📙 Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz - رحمه الله (Fatawah nur 'ala ad-Darbi , Juz 1)
____

✍ وأما ما أحدثه الفاطميون المعروفون ، فإن ذلك كان في مصر والمغرب في القرن الرابع والخامس. وقد أحدثوا موالد للرسول ﷺ وللحسن والحسين ، وللسيدة فاطمة ، ولحاكمهم ، ثم وقع بعد ذلك الإحتفالات بالموالد بعد هم من الشيعة وغيرهم ، وهي بدعة بلا شك
لأن الرسول ﷺ هو المعلم المرشد ، وأصحابه أفضل الناس بعد الأنبياء ، وقد بلغ البلاغ المبين ، ولم يحتفل بموالده عليه الصلاة والسلام ، ولا أرشد إلى ذلك ، ولا احتفل به أصحابه أفضل الناس وأحب الناس للنبي ﷺ ولا التابعون لهم بإحسان في القرون المفضلة الثلاثة .

📙الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز - رحمه الله - (فتاوى نور على الدرب ، الجزء الأول )

💿Rujukan @Alhaqqu_Ahabbu_Ilaina

🌍📲 Channel Telegram
https://t.me/infokajiansalafysulawesi

Sabtu, 15 September 2018

🍃 *Wahai Mukminin Ingatlah Allah Dan Pelajarilah Al-Quran



🍃 *WAHAI ORANG YANG BERIMAN SUDAH SAATNYA SEKARANG UNTUK MENGINGAT ALLOH DAN MEMPELAJARI FIRMAN ALLAH ( AL-QUR'AN)*

Sebelum Tiba Masa akan ditinggalkan Alquran dan ALQURAN akan diambil oleh Allah. Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi washahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin, amma ba’du Allah Ta'ala berfirman:
 أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ 
لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” (Al-Hadid: 16)

 PENJELASAN ULAMA AHLI TAFSIR :
 ✅ Menurut salah seorang ulama ahli tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah beliau telah mengatakan: “Apakah belum datang waktunya bagi kaum mukminin untuk tunduk hatinya dalam berdzikir kepada Allah” yakni hatinya lunak disaat mengingat Al-Qur’an, disaat dinasehatkan dan disaat mendengarkan Al-Qur’an lalu dia akan memahaminya, tunduk, mendengar dan patuh terhadap firman Allah.
 ✅ Dan telah disebutkan dalam riwayat yang shahih, dikeluarkan oleh Imam Muslim:
 عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ z قَالَ مَا كَانَ بَيْنَ إِسْلاَمِنَا وَبَيْنَ أَنْ عَاتَبَنَا اللَّهُ بِهَذِهِ الآيَةِ "أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ" إِلاَّ أَرْبَعُ سِنِينَ 
 Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu telah berkata: “Tidaklah jarak masa diantara keislaman kami dengan teguran Allah terhadap kami dengan ayat: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…..” kecuali masa setelah 4 tahun lamanya. Keterangan shahabat diatas menunjukan bahwa mereka para shahabat itu telah diingatkan dan ditegur oleh Allah setelah berislam selama empat tahun lamanya untuk kembali dalam mengingat Allah dan untuk tunduk terhadap kebenaraan yang telah diturunkan-Nya, maka jika keadaan shahabat dengan berbagai macam keutamaan yang diperolehnya, dan mereka adalah orang yang selalu bersama dengan Rasulullah `,, dan mereka adalah orang yang mengerti tentang bahasa Al-Qur’an masih juga tetap mendapat teguran dari Allah, *lalu bagaimana dengan keadaan kita kaum muslimin yang sangat jauh dalam meraih keutamaan jika dibandingkan dengan keadaan mereka ?!!, terlebih dengan keadaan kita yang tidak mengerti tentang bahasa Al-Qur’an, dan ditambah dengan keadaan kita yang sering melalaikan Al-Qur’an, maka sangatlah pantas untuk kita mendapat nasehat dan teguran dari ayat diatas* !!

 ✅ Disebutkan dalam suatu kisah salah seorang ulama besar dimasa jahilnya, yaitu Fudhail bin Iyadh, lalu dia bertaubat kepada Allah dengan sebab teringat dengan ayat Allah diatas, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala, dari jalan Al-Fadhl bin Musa berkata: “Bahwa Fudhail bin Iyadh dulunya adalah seorang perampok (penyamun), dia pernah melakukan perampokan ditengah jalan yang terletak diantara tempat Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubatnya beliau adalah bahwa dia pernah merindukan seorang wanita, disaat itu beliau sedang menaiki dinding rumah seorang wanita tersebut untuk melihat wanita itu, tiba-tiba dia mendengar seseorang membaca Al-Qur’an yang berbunyi:
 أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (Al-Hadid: 16)
 Maka tatkala beliau mendengar ayat tersebut beliau berkata: “Na’am ya Rabbku (Ya Tuhanku), telah tiba saatnya sekarang”, lalu beliau kembali dan berlindung diwaktu malam disebuah reruntuhan bangunan, maka tiba-tiba disaat itu ada sekelompok orang yang akan melewati tempat tersebut, sebagian diantara mereka berkata: “Kita lanjutkan saja perjalanan kita”, sebagian yang lain berkata: “Kita tunggu sampai pagi karena Fudhail akan merampok kita ditengah jalan”. Dia berkata: “Lalu aku berfikir dan aku katakan pada diriku sendiri: “Aku selalu berusaha diwaktu malam untuk melakukan kemaksiatan, sementara sebagian masyarakat muslim disini takut kepadaku, maka tidaklah yang diperlihatkan oleh Allah kepadaku untuk terdorong melakukan sesuatu terhadap diri mereka melainan agar aku berhenti (dari kemaksiatan)”, lalu beliau berdoa

: اللَّهُمَّ إِنِّيْ قَدْ تُبْتُ إِلَيْكَ، وَجَعَلْتُ تَوْبَتِي مُجَاوَرَةَ البَيْتِ الحَرَامِ 
 “Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan aku akan jadikan taubatku ini untuk selalu mendekat ibadah kepada-Mu di Masjidil Harom” Dari kisah Fudhail diatas bisa diambil faedah yang besar, yaitu tentang pentingnya memahami Al-Qur’an sehingga dengan hal ini akan memberikan pengaruh baik pada hatinya

✅ Oleh sebab itu Allah Ta'la memerintahkan untuk memperhatikan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman-Nya:
 كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ 
 “Suatu kitab yang telah diturunkannya kepadamu yang diberkahi agar mereka dapat memahami ayat-ayat-Nya dan agar orang yang memiliki akal dapat mengambil pelajaran” (Shad: 29)
 Imam Al-Hasan Al-Bashri telah berkata: “Demi Allah, bukanlah memperhatikan Al-Qur’an itu dengan menghafal huruf-hurufnya sementara batasan syariat–Nya telah disia-siakan dan diabaikan, sampai ada salah seorang diantara mereka berkata aku telah membaca Al-Qur’an semuanya tapi tidak terlihat dalam Al-Qur’an yang berbicara masalah akhlak dan tidak ada beramal”. 

 ✅ Allah Ta’ala telah menjelaskan tentang orang yang benar dalam keimanannya terhadap kitab yang diturunkan, bahwa mereka adalah orang yang sampai padanya Al-Kitab kemudian dikaji dengan sesungguhnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 
 الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ 
 “Dan orang–orang yang pernah Kami berikan kitab kepada mereka lalu mereka membaca (tilawah) dengan sebenarnya maka mereka itu orang yang mengimaninya” (Al-Baqarah: 121)

 Imam Syaukani berkata bahwa yang dimaksud dengan membaca (tilawah) itu adalah dengan mengamalkannya, dan seseorang tidak bisa beramal kecuali dengan memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya.

 ✅ Allah Ta'ala mencela orang yang tidak mau memperhatikan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hanya mencukupkan dengan mambaca huruf-hurufnya saja tanpa memahami maknanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 
 وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ
 “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali sekedar amaniyah (dibaca saja) dan mereka hanya menduga-duga” (Al-Baqarah: 78) 
 Imam Asy-Syaukani berkata: “Al-Amaniyah ada yang berpendapat bahwa artinya adalah tilawah (bacaan semata), yaitu: tidak ada ilmu bagi mereka kecuali semata-mata bacaan tanpa pemahaman dan perhatian” 

✅ Allah Ta'la berfirman: وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا “Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang ditinggalkan" (Al-Furqan: 30) Ibnu Katsir berkata: “Bahwa sikap tidak mau memperhatikan Al-Qur’an dan tidak pula memahaminya, maka ini yang dimaksud dengan Al-Qur’an itu mahjur (ditinggalkan)”. 

 Imam Ibnul Qayyim telah berkata dalam kitab Fawa’idutafsir: 
 “Ada beberapa bentuk ditinggalkannya Al-Qur’an: 
 1⃣ Hajr (meninggalkan Al-Qur’an) dengan tidak mau mendengar dan mengimaninya, dan tidak mau memperhatikannya. 
 2⃣ Hajr dengan tidak ada pengamalan dan tidak ada pijakan pada batasan ketentuan syariat yang halal dan yang haram meskipun dia membaca dan mengimaninya. 
 3⃣ Hajr dengan tidak mau berhukum dengan hukum Allah, baik dalam perkara dasar pokok agama atau cabang-cabangnya, dan keyakinannya belum memberi faedah yang maksimal, dan dalil-dalil yang sekedar dilafadzkan saja tidak menghasilkan ilmu. 
 4⃣ Hajr dengan dia telah meninggalkan pemahaman dan pengkajian makna yang diinginkan oleh Allah yang berfirman. 
 5⃣ Hajr dengan tidak mau mencari kesembuhan dan pengobatan untuk segala macam penyakit hati dengan Al-Qur’an. 

 ✅ Jadi orang yang telah meninggalkan Al-Qur’an adalah orang yang sangat dicela oleh agama. Oleh sebab itu jika umat ini tidak lagi mau mengindahkan apa yang dinasehatkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka pada suatu saat nanti Al-Qur’an akan diambil oleh Allah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits: “Sungguh Al-Qur’an akan diambil ditengah-tengah kalian diwaktu malam hari, lalu akan hilang dari dada kalian dan tidak akan tertinggal sedikitpun dari ayatnya di dunia ini” (Dari Ibnu Mas’ud dan Hudzaifah secara marfu’ dalam riwayat Ibnu Majah, shahih menurut Al-Albani) Demikianlah yang bisa diuraikan oleh si penulis, sebenarnya penulis ingin membawakan beberapa kisah menarik tentang pengaruh Al-Qur’an dihati shahabat sebelum keislamannya dengan sebab mereka telah mengerti dan memahami makna Al-Qur’an, insya Allah dilain kesempatan akan kami bawakan. Mudah-mudahan apa yang bisa penulis tuangkan dalam risalah ini bisa bermanfaat, dengan harapan semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk kembali kepada Al-Qur’an dengan mengkaji makna yang dikandungnya, dan semoga Allah tidak menggolongkan kita sebagai orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.. Wallahu a’lamu bish shawab 

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ ✏
 Penulis *Al Ustadz Abu Khuzaimah* 
 🌀 *WhatsApp Al-Istiqomah 'alas Sunnah Batam* 🇮🇩 *Channel Telegram* || http://telegram.me/istiqomahsalafi 
💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Selasa, 28 Agustus 2018

INSYA ALLAH, DATA PESERTA YANG AKAN IKUT PAKET A - PKBM

Arsip Informasi

 
Copyright © 2014 " AL-ISTIQOMAH ALA SUNNAH ". Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates
" Ahlan Wasahlan Di Website Dakwah Yayasan Al-Istiqomah Ala-Sunnah "